bukan hanya bisa berjalan, meluncur di hamparan es pun ia mampu. Josephine Susanty chikung merngankan envakil perutku Rabu siang, saat liburan sekolah berlangsung, Jos (baca: Yos) gadis berusia 23 tahun, meluncur di sky rink Mal Taman Anggrek- Jakarta Barat.
Dengan kaki dibalut sepatu es, ia bergerak lincah.
Sebentar membuat gerakan memutar (spin), kali lain, bergaya bebas.
Semburat kebahagiaan tampak memancar di wajahnya yang bundar Tidak ada yang menyangka kalau empat tahun yang lalu, kondisi putri ketiga pasangan Handrijono Halim dan Merry Ong itu cukup memprihatinkan.
Cara berjalannya tertatih-tatih.
Setiap langkah seolah menjadi bebannya karena untuk mencapai suatu tempat, ia harus berjinjit sambil menahan sakit di perut.
Energinya seolah habis terkuras oleh penyakit yang menggerogoti ususnya itu.
Tiga hari setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit, tiba- tiba saja perutnya terasa perih.
"Saya muntah-muntah bahkan sampai mengeluarkan darah," jelasnya.
Saat kembali ke rumah sakit, dokter yang merawat mengatakan bahwa ia sedang mengalami masa penyesuaian setelah menjalani operasi tersebut.
Untuk meringankan penyakitnya, dokter kemudian memberi enam jenis antibiotik Semakin sering meneguk antibiotik, dengan dosis sehari tiga kali untuk jangka waktu lebih dari sebulan kondisi badan Jos bukan tambah fit, malah semakin loyo.
"Saya memang suka makan makanan yang pedas-pedas, dan mpek-mpek yang berkuah cuka," begitu ia mengaku pada Nirmala.
Awalnya ia berpikir, apabila usus buntunya sudah dioperasi, sumber penyakitnya pasti akan hilang.
Namun kenyataannya tidaklah demikian, Semakin lama kondisi perutnya bukan semakin baik, malah bertambah sakit.
Tanpa sebab apa-apa saya sering ambruk," tuturnya.
Apabila datang masa haid, Jos lebih tersiksa.
Sakit di perutnya lebih hebat lagi.
sampai ia tidak bisa beranjak dari tempat tidur Menutup Dini Dalam seminggu hari sekolah, dapat dipastikan empat hari ia tidak bisa chikung ikuti pelajaran secara penuh.
menuoaling ia bertahan sampai mata ajaran ketiga.
Mau tidak mau saya pulang untuk beristirahat," katanya.
Merasa ada kekurangan pada dirinya Jos mulai menutup diri terhadap teman- teman maupun guru-guru.
"Saya jadi gampang marah dan mudah tersing- gung," tuturnya.
Untunglah para guru maupun teman- temannya bisa memahami sikap Jos.
Mereka tiada henti memberi spirit agar semangat Jos tidak kendur.
"Saya sering ditelepon, dihibur, bahkan diberi dukungan moral sehingga bisa naik ke kelas IlII." Liver dan Ginjal lercemar Dengan menguasaí chikung ia dapat menolong orang lain Setelah lulus ujian kelas I dan diterima sebagai siswi di SMK Baranangsiang-Bogor, kondisi badan Jos masih lemah.
"Boleh dibilang, tiada hari tanpa muntah.
Dan kalau sudah muntah, sulit berhenti," ujarnya.
Mendekati catur wulan pertama kelas I karena frekuensi muntahnya semakin sering dan bercampur bercak darah, ia dibawa lagi ke rumah sakit.
Dengan kaki dibalut sepatu es, ia bergerak lincah.
Sebentar membuat gerakan memutar (spin), kali lain, bergaya bebas.
Semburat kebahagiaan tampak memancar di wajahnya yang bundar Tidak ada yang menyangka kalau empat tahun yang lalu, kondisi putri ketiga pasangan Handrijono Halim dan Merry Ong itu cukup memprihatinkan.
Cara berjalannya tertatih-tatih.
Setiap langkah seolah menjadi bebannya karena untuk mencapai suatu tempat, ia harus berjinjit sambil menahan sakit di perut.
Energinya seolah habis terkuras oleh penyakit yang menggerogoti ususnya itu.
Mau tidak mau saya pulang untuk beristirahat," katanya
Pengobatan alternati Muntah Darah Pengalaman kelabu Jos berawat ketika duduk di kelas IISMP Mardiyuana, Bogor.Tiga hari setelah menjalani operasi usus buntu di sebuah rumah sakit, tiba- tiba saja perutnya terasa perih.
"Saya muntah-muntah bahkan sampai mengeluarkan darah," jelasnya.
Saat kembali ke rumah sakit, dokter yang merawat mengatakan bahwa ia sedang mengalami masa penyesuaian setelah menjalani operasi tersebut.
Untuk meringankan penyakitnya, dokter kemudian memberi enam jenis antibiotik Semakin sering meneguk antibiotik, dengan dosis sehari tiga kali untuk jangka waktu lebih dari sebulan kondisi badan Jos bukan tambah fit, malah semakin loyo.
"Saya memang suka makan makanan yang pedas-pedas, dan mpek-mpek yang berkuah cuka," begitu ia mengaku pada Nirmala.
Awalnya ia berpikir, apabila usus buntunya sudah dioperasi, sumber penyakitnya pasti akan hilang.
Namun kenyataannya tidaklah demikian, Semakin lama kondisi perutnya bukan semakin baik, malah bertambah sakit.
Tanpa sebab apa-apa saya sering ambruk," tuturnya.
Apabila datang masa haid, Jos lebih tersiksa.
Sakit di perutnya lebih hebat lagi.
sampai ia tidak bisa beranjak dari tempat tidur Menutup Dini Dalam seminggu hari sekolah, dapat dipastikan empat hari ia tidak bisa chikung ikuti pelajaran secara penuh.
menuoaling ia bertahan sampai mata ajaran ketiga.
Mau tidak mau saya pulang untuk beristirahat," katanya
"Dengan rasa mual dan pelajaran k rut melilit, saya tidak bisa konsentrasi pe dalam menerima pelajaran.Mau tidak mau saya pulang untuk beristirahat," katanya.
Merasa ada kekurangan pada dirinya Jos mulai menutup diri terhadap teman- teman maupun guru-guru.
"Saya jadi gampang marah dan mudah tersing- gung," tuturnya.
Untunglah para guru maupun teman- temannya bisa memahami sikap Jos.
Mereka tiada henti memberi spirit agar semangat Jos tidak kendur.
"Saya sering ditelepon, dihibur, bahkan diberi dukungan moral sehingga bisa naik ke kelas IlII." Liver dan Ginjal lercemar Dengan menguasaí chikung ia dapat menolong orang lain Setelah lulus ujian kelas I dan diterima sebagai siswi di SMK Baranangsiang-Bogor, kondisi badan Jos masih lemah.
"Boleh dibilang, tiada hari tanpa muntah.
Dan kalau sudah muntah, sulit berhenti," ujarnya.
Mendekati catur wulan pertama kelas I karena frekuensi muntahnya semakin sering dan bercampur bercak darah, ia dibawa lagi ke rumah sakit.
Comments
Post a Comment